Rabu, 06 Februari 2013

Influenza Vs Selesma Vs Rhinitis Alergi

Beberapa minggu yang lalu, saya berjanji menulis artikel tentang influenza dan selesma (common cold). Baru sekarang saya sempat, mohon dimaklumkan sebelumnya atas keterlambatan ketepatan janji saya. Walau hanya janji menulis tentang flu dan selesma, rhinitis alergi disertakan sekadar tambahan info.

Banyak yang bingung membedakan influenza dan selesma karena gejalanya yang hampir serupa. Secara umum gejala yang ditimbulkan disebut sebagai “flu-like symptoms” atau “flu-like illness”, terdiri atas demam, batuk kering, pilek, nyeri telan, nyeri sendi, menggigil, letih, lesu, sakit kepala, tidak nafsu makan dan mual. Lalu apa bedanya?

Apa perbedaan flu dan selesma dan rhinitis alergi?
Virus penyebabnya jelas berbeda. Flu disebabkan oleh virus Influenza , yaitu sebuah virus yang memiliki antigen H dan N. Antigen tersebut selalu berubah menyatakan strain virus yang selalu bermutasi. Misalnya yang paling terkenal virus H5N1 yang menyebabkan flu burung. Konsep “satu virus” ini mendasari adanya imunisasi influenza. Sedangkan selesma disebabkan oleh bermacam-macam virus lainnya di luar virus influenza tadi, misalnya rhinovirus (yang paling sering), adenovirus, coronavirus dll. Kalau ditotal, kira-kira ada sekitar 200 macam virus penyebab selesma. Oleh karena itu tidak ada pengobatan spesifik terhadap selesma dan tidak ada vaksinnya juga karena banyaknya jumlah virus penyebab.  Karena merupakan suatu infeksi, maka keduanya menular. Bisa lewat percikan bersin/batuk atau kontak dengan tangan yang sakit atau dengan benda-benda lain yang tercemar virus, karena untuk beberapa saat virus2 tersebut bisa hidup di udara luar. Secara umum , seseorang bisa mendapatkan selesma atau flu sekitar 3-4 kali pertahun. Sedangkan untuk rhinitis alergi, dari namanya saja sudah jelas bahwa penyebabnya adalah alergi, suatu kondisi imunologi sehingga tidak menular.

Lalu bagaimana membedakan secara klinis?
Sebenarnya sulit untuk menyebutkan seseorang secara pasti terkena influenza atau selesma. Kata kuncinya adalah, influenza selalu menunjukkan gejala dengan intensitas yang lebih berat dibanding selesma. Selesma jarang memiliki komplikasi serius seperti pneumonia, infeksi bakteri sekunder dan hampir tidak pernah membutuhkan perawatan di RS.  Biasanya pula selesma hanya menimbulkan gejala ringan seperti sakit tenggorok ,hidung meler atau tersumbat. Sedangkan influenza lebih jelas menunjukkan gejala-gejala sistemik (menyeluruh), seperti nyeri sendi dan lesu yang lebih nyata. Virus influenza juga lebih berpengaruh ke saluran cerna anak karena sistem kekebalan di ususnya yang belum terlalu matang sehingga menimbulkan gejala pencernaan, seperti diare dan muntah. Rata-rata selesma membaik dalam tiga – lima hari, sementara influenza terkadang butuh waktu lebih lama antara 7-10 hari, bahkan bisa sampai 3 minggu. Walaupun virus influenzanya sudah tidak ada di dalam tubuh, namun gejala umumnya masih sering tersisa untuk beberapa saat. Membedakan secara pasti tentu dengan pemeriksaan serologi virus yang tidak direkomendasikan dalam praktik sehari-hari, kecuali bila sedang terjadi wabah influenza mematikan. Rhinitis alergi tidak disertai demam atau gejala-gejala umum, hanya hidung yang mampet, meler, atau bersin-bersin. Bisa terjadi bertahun-tahun lamanya bila pencetusnya tidak dihindari. Di negara empat musim, pada saat musim semi, banyak timbul rhinitis seasonal (musiman) karena banyaknya serbuk bunga yang beredar.

Bagaimana pengobatannya?
Tidak ada terapi spesifik untuk flu dan selesma. Semua pengobatannya bersifat simptomatis karena pada dasarnya flu dan selesma adalah penyakit yang self-limiting (bisa sembuh sendiri), perkecualian bila wabah flu mematikan sedang beredar. Berkumur dengan air garam sangat membantu sebagai pertolongan pertama karena akan membilas lender dan virus yang ada di tenggorokan. Tidak menyenangkan memang, apalagi buat anak-anak, tapi berkumur merupakan terapi yang efektif dan cukup membantu melegakan gejala. Pemberian larutan garam tetes pada hidung juga cukup membantu pengenceran lender bagi bayi. Obat penurun panas, dekongestan dan pengencer dahak dapat diberikan bila gejala sangat mengganggu , namun tentu dengan kehati-hatian dokter mengingat banyak penelitian yang menemukan bahwa obat pilek dan batuk sebenarnya tidak terlalu efektif. Minum banyak cairan dan istirahat juga wajib hukumnya. Pada kondisi khusus wabah, ada beberapa obat anti virus seperti Tamiflu yang dapat membantu, karena obat tersebut akan menghambat reproduksi virus dan memperpendek waktu sakit. Syarat khusus diperlakukan yaitu harus diminum dalam 48 jam pertama. Antibiotik tidak diperlukan karena penyebabnya adalah infeksi virus, namun apabila diduga telah terjadi infeksi sekunder akibat bakteri, maka antibiotik akan diberikan. Yang terpenting adalah mencegah tertular. Sedangkan untuk rhinitis alergi, tentu hilangkan pencetusnya, entah dari makanan, debu, tungau, dingin, dll. Bila alergi mengganggu, dokter akan memberikan anti histamine untuk mengurangi gejala.

Bagaimana mencegah penularan flu dan selesma?
Mudah kok, cuci tangan secara teratur, berkumur setelah bepergian, tutup mulut dan hidung bila bersin/batuk, pakai masker bila sedang sakit atau ada yang sakit di sekeliling kita serta tidak berbagi peralatan makan dengan orang lain. Hal-hal sederhana yang kadang terlupakan. Imunisasi influenza dianjurkan sejak usia 6 bulan – 18 tahun atau pada wanita hamil, lansia dan orang dengan kondisi sistem imun yang tertekan (misalnya pasien kemoterapi). Apakah akan mencegah 100%? Tentu tidak, tetapi bila wabah flu mematikan sedang beredar, yang mendapat imunisasi tidak akan jatuh ke kondisi berat.


Semoga bisa menjawab kebingungan ibu/bapak sekalian. Kalau masih bingung….yuuk pegangan ^-^ (*nyodorin tiang*)

 Catatan : Artikel ini dibuat sebagai makalah kesehatan awam umum, bukan untuk referensi kedokteran.
-RP-150611-

Sumber :
  1. 1.      Brook I, Steele RW. Pediatric Influenza. http://emedicine.medscape.com/article/972269-overview#a0104
  2. 2.      Doer SE, Schiel WC. Common cold. http://www.medicinenet.com/common_cold/article.htm
  3. 3.      CDC. Q&A Cold vs Influenza. http://www.cdc.gov/flu/about/qa/coldflu.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar